Aula kecil yang disewa jam delapan malam, kursi plastik digeser ke dinding, dan empat band yang dua di antaranya tidak pernah kudengar namanya. Penonton tidak sampai lima puluh. Ampere-nya tua, kabelnya penuh selotip, dan vokalis pertama meminta maaf ke soundman sebelum mulai bernyanyi.
Lalu dinding suara datang.
Black metal di panggung lokal selalu punya cacat yang indah: gitar yang tidak seimbang, drum yang lebih keras dari segalanya, vokal yang terdengar seperti direkam di ruang lain. Di rekaman itu cacat. Di ruangan yang sama dengan tubuhmu, itu fakta fisika — suara itu bukan sedang diputar, dia sedang terjadi, ke kamu, bersama lima puluh orang asing yang tidak punya alasan lain untuk berada di sana.
Band ketiga membawakan satu lagu sepanjang delapan belas menit. Di menit kesebelas semuanya runtuh jadi feedback dan aku sadar sedang tersenyum. Bukan karena bagus atau jelek — tapi karena tidak ada satu pun detik di ruangan itu yang dibuat untuk disukai orang.
Telingaku berdenging sampai siang. Souvenir yang tepat untuk derau yang jujur.