Hari ini aku mencoba jujur pada diri sendiri perihal berapa banyak baris yang kutulis dengan tangan. Jawabannya: sedikit. Sebagian besar kode sampah ini ditulis oleh model bahasa yang menurut catatan rilisan bulan lalu "kemungkinan akan melakukan kesalahan yang terlihat masuk akal". Sebagai referensi kesalahan: aku sering juga begitu.
Di tengah sesi, kode yang kupunya terasa semakin aneh. Aku menulis prompt, AI menulis fungsi, aku menguji, aku ulangi. Di salah satu titik, aku sadar aku sedang berdialog dengan sebuah antrean TODO di kepala:
function pushBoulder(progress: number): number {
return Math.min(progress + STEEP, SUMMIT - 1); // satu dorongan
}
Feedback-buffer: batu terus menggelinding kembali. Lalu siapa yang mendorong? Kalau dulu jawabannya "aku", sekarang aku kurang yakin pembedanya masih jelas. Bukan karena AI-nya pintar — justru karena dia bodoh dengan cara yang menguntungkan: tidak bosan, tidak takut salah, tidak perlu mandi.
Ada dua doktrin yang kugenggam tahun ini, dan keduanya bentrok:
- Tulisan (dan kode) adalah perpanjangan pikiran; alat tidak mengurangi kepenulisan.
- "Extended mind" adalah cara yang nyaman untuk bilang bahwa aku tidak lagi bisa menyelesaikan sebuah fungsi tanpa meminta saran pada kotak chat.
Aku 80% itu alat, 20% itu aku, dan 100% aku mempercayai kalkulasi itu. Batu tetap naik — hanya saja sekarang ada yang membantuku menahan beban, dan aku tidak tahu harus berterima kasih atau curiga. Jadi verdict-nya: tidak tahu. Dan untuk blog seperti ini, "tidak tahu" adalah jawaban yang paling jujur — dan paling mahal.